Kupu-Kupu di Rambut Ibu - CERPEN - Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Media Online Sulawesi Barat

Breaking

Senin, 12 Maret 2018

Kupu-Kupu di Rambut Ibu - CERPEN


Kupu-kupu bersayap keemasan itu masih bertengger di sana, di kepala Ibu. Dari jauh ia terlihat seperti hiasan rambut yang sengaja disematkan. Cantik. Memukau.
Aku tidak tahu bagaimana awal muasal kupu-kupu itu bisa betah bertengger di kepala Ibu. Ibu tidak pernah mengatakan atau bercerita apa-apa---kepadaku---juga kepada Ayah. 
"Mungkin kupu-kupu itu ada sejak Ibumu masih belia," Ayah berkata lirih. Khawatir suaranya terdengar oleh Ibu. "Dan jujur ayah tidak suka pada hewan bersayap itu, yang tidak pernah sedetik pun pergi meninggalkan kepala Ibumu."
Jika Ayah sampai berkata begitu, kukira aku bisa memaklumi. Sebab Ibu memang terlihat lebih perhatian terhadap kupu-kupu itu ketimbang kepada kami. Ibu lebih suka duduk berlama-lama di depan meja riasnya seraya memandangi kupu-kupu yang sesekali berayun dan menari-nari di selusur helai rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai.
"Kau lihat bukan? Ibumu semakin hari semakin sayang kepada kupu-kupu sialan itu," suatu pagi Ayah kembali mengeluh.  Sesaat mata kami tertuju pada sosok Ibu yang tengah berdiri di taman kecil yang terletak di samping rumah. Tangan Ibu yang halus terulur , memetik sekuntum bunga dan menyematkan bunga itu di atas cuping telinganya. Sementara kupu-kupu itu, seperti biasa akan dengan senang hati menghirup sari bunga seraya sesekali mengecup lembut pipi Ibu. Mendapat kecupan lembut seperti itu seketika wajah Ibu berseri. Merona jambu. Tampak sumringah. 
"Ayah benar. Ibu sepertinya mulai melupakan kita," aku membenarkan ucapan Ayah.
"Apakah kita akan membiarkan kupu-kupu itu terus menguasai hati Ibumu?" Ayah beralih menatapku.
"Tentu saja tidak. Kita harus segera melakukan sesuatu. Mengusir kupu-kupu itu misalnya, atau---"
Meski tak ada jawaban yang keluar dari bibir Ayah, aku tahu Ayah sangat mendukung ideku. Maka aku pun segera menyusun rencana. Aku ingin secepatnya mengusir kupu-kupu itu dari rambut Ibu.
Suatu malam ketika kesempatan itu ada, diam-diam aku menyelinap masuk ke kamar Ibu. Kulihat Ibu sudah terlelap di atas ranjang kayu yang usianya sudah sangat tua--dan tentu saja ditemani oleh kupu-kupu bersayap keemasan itu. 
Hewan itu bergerak-gerak perlahan ketika melihat kehadiranku.
"Malam ini kau harus pergi dari kepala Ibu," aku bergumam seraya mengulurkan jemari, siap menyergap sayap tipis yang mudah patah itu.
"Tunggu! Aku tidak bisa meninggalkan Ibumu," kupu-kupu itu sontak mengibaskan sayapnya. Aku terkejut. Kibasan itu cukup kuat hingga menimbulkan rasa panas pada ujung jemariku.
"Kehadiranmu mencuri perhatian kami---aku dan Ayah!" suaraku mulai meninggi.
"Apa aku tidak salah dengar?" kupu-kupu itu tertawa hingga tubuhnya bergetar. Usai tawanya mereda ia melanjutkan, "Ibumu selama ini sangat kesepian. Hanya aku satu-satunya teman yang dimilikinya. Ayahmu? Sejak tahu Ibumu tidak bisa lagi memberinya keturunan, ia jarang pulang. Ia tak pernah sekali pun menyentuhnya."
Aku tertegun.
"Tidak bisa lagi memiliki keturunan? Lalu siapa aku ini sebenarnya?" aku menatap kupu-kupu itu dengan wajah heran bercampur bingung.
Hewan bersayap lembut itu mendadak terbang meninggalkan rambut Ibu. Lalu hinggap tepat di atas ubun-ubun kepalaku.
"Kau adalah anak yang selama ini diimpikan oleh perempuan itu---perempuan yang kau panggil Ibu itu. Tapi kau terlahir terlalu dini. Prematur. Dan dokter tidak bisa menyelamatkanmu," kupu-kupu itu berbisik perlahan di telingaku. Aku termangu. Seketika pandanganku tertuju pada sosok Ibu yang masih terlelap di atas ranjang tuanya. Rasa iba mulai menyeruak dan menenggelamkan hatiku.
"Perempuan yang malang," kakiku melangkah perlahan. Mendekati Ibu. Kutundukkan kepalaku. Kukecup lembut kening keriputnya.
"Ibu, aku ingin menjelma menjadi kupu-kupu. Agar senantiasa bisa menemanimu," bisikku tanpa suara. 
Tiba-tiba saja tubuhku mengecil, terasa ringan. Lalu sesuatu yang lembut tumbuh di kedua pundakku. 
Aku terbang. Melayang sejenak di udara lalu hinggap perlahan di kepala Ibu.
"Aku pamit pergi. Jaga baik-baik Ibumu," kupu-kupu bersayap keemasan itu tersenyum padaku. 
Sebelum benar-benar menghilang di balik dinding waktu, kupu-kupu itu menunjukkan wujud aslinya. Ia seorang bidadari. Pelindung setiap perempuan yang ditakdirkan tidak bisa memiliki keturuan namun ikhlas menjaga kesabaran hati.
Karya: Lilik Fatimah Azzahra  
*Kompasiana.com

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman