Terlambat - Cerpen oleh Hera Azis Simpoha - Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Media Online Sulawesi Barat

Breaking

Minggu, 25 Maret 2018

Terlambat - Cerpen oleh Hera Azis Simpoha



Nafasnya memburu. Mengalahkan denyut jantung seorang sprinter yang baru saja melintasi sebuah garis finish. Nadinya  berdetak tak menentu. Mengikuti alur pemikirannya yang juga mulai semerawut. Berkelana kesegala penjuru.

Ingin mengutuki diri sendiri. Namun rupanya ego bertahta lebih dalam dibandingkan  keikhlasan untuk mengakui kesalahan. Seharusnya. Usai bercengkrama. mengadukan segala keluh kesah pada-Nya dan membaca beberapa ayat penyejuk jiwa. Dia segera bergegas mandi. Bukannya memegang handphone dan menjelajahi dunia maya.

Pagi tadi. Antrean tinggal menyisakan satu  orang tatkala ia hendak ke kamar mandi. Meskipun tinggal seorang saja, tetapi ini cukup membuatnya repot. Menunggu adik perempuannya yang manjanya selangit, serasa menunggu empat orang yang sedang antri dan dia berada di posisi yang kelima. Bila saja setiap penghuni rumah diberi jatah waktu tertentu dalam menggunakan kamar mandi. Adiknya ini akan memerlukan tambahan waktu. Meminta perpanjangan waktu lima hingga 10 menit.

Lelaki itu masih terlihat mondar-mandir di ruang tengah. Menunggu seseorang segera membukakan pintu. Tetapi suara gemericik air yang menebar aroma wangi khas bunga dari sebuah merek sabun mandi yang iklannya kerap wara-wiri di layar televisi, memberinya isyarat bahwa  dia harus merawat kesabarannya beberapa menit lagi. Gilirannya tiba. Hanya sekejap saja dia beraksi di dalam ruangan berukuran hampir 3x3 meter itu. Kini, lelaki muda itu sudah siap melaju dengan sepeda motornya.

Kuda besinya terlihat mulus. Menyusuri jalan beraspal namun mulai dipenuhi lubang-lubang kecil. Padahal beberapa bulan lalu jalan tersebut baru saja di aspal. Entahlah. Di sisi kanan dan kiri jalan bahkan terlihat penampakan air yang menyerupai kolam kecil. Hujan deras baru saja turun dini hari tadi. Melintasi jembatan kayu yang tinggal menunggu hari dimana ia akan ambruk. Membuat nyalinya sedikit menciut. Padahal dulu dia termasuk salah satu atlit balap motor di masa putih abu-abu dulu.

Setengah perjalanan. Speedometer motornya memberi kode untuk segera di isi. Dia lupa mengecek bensin dalam tangki semalam. Dan ini memaksanya untuk kembali berjibaku dalam antrian yang kedua.

Dua liter, Mbak. Ujarnya sembari mengeluarkan selembar uang merah dalam dompet bututnya.

Lembar terakhir yang akan menemaninya bertahan hidup untuk dua hari kedepan ditanah rantau tempatnya mencari rezeki. Sementara SMS Banking yang dinantinya tak juga datang menyapa.

Motornya kembali membelah ruas jalan. Dan lelaki itu harus kembali menghabiskan beberapa menit berharganya. Kali ini ujian datang dari rambu-rambu lalu lintas. Beberapa kali dia harus menatap dengan sabar traffic light di samping kiri-kanannya. Dan ini adalah lampu merahnya yang ke empat.

“Andi”
Seorang lelaki yang seumuran dengannya menyapa pelan. Mengenakan seragam  sama persis dengan yang  melekat ditubuhnya saat ini. Pakaian yang biasa digunakan pada hari-hari tertentu. Biasanya setiap tanggal tujuh belas pada setiap bulannya. Seragam ini pun menjadi kewajiban untuk dikenakan para aparatur sipil negara.

“Di mana kamu kerja?Tanya orang itu dari balik kaca  mobil yang diturunkan perlahan.

Dia tak segera memberi jawaban. Diamatinya lelaki dalam mobil avanza itu lekat-lekat.

“Masih kenal aku kan?” Tanya orang itu lagi.

Andi masih terdiam. Hingga akhirnya terucap sebuah nama  dari  bibirnya. Seorang kawan seperjuangan di masa remajanya.

            “Ari. Kamu di sini juga?”

            Andi mematikan mesin motornya. Dari percakapan singkat sebuah nomor telepon disimpannya.

Dalam hitungan menit dia pun sudah siap melaju kembali dengan sepeda motornya. Wajahnya tidak lagi Sudahlah. Sekencang apapun dia melaju. Hari ini dia tetap tak bisa menyaksikan bagaimana bendera merah putih di kibarkan dengan semangatnya oleh bocah-bocah berseragam putih biru.

Pagi ini dia telah..


"Aku terlambat." Bisiknya dalam hati.

Foto Herawaty Azis Simpoha.
Hera Azis Simpoha

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman