Dunia Remaja dan Perilaku Merokok | Opini - Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Media Online Sulawesi Barat

Breaking

Senin, 09 April 2018

Dunia Remaja dan Perilaku Merokok | Opini


Penulis: Amirullah Bandu 
(Ketua Koalisi Muda Kependudukan Sulbar)
Berbicara dunia remaja, maka kita akan memasuki dunia tanpa batas. Karena pembahasannya tak akan menemukan titik ujung. Seiring dengan perkembangan zaman, seiring itu juga kompleksitas masalah yang dihadapinya. Ini juga merupakan fase kehidupan yang sangat penting buat setiap manusia. Masa yang indah untuk diulang ketika kita telah melaluinya.
Remaja adalah periode perubahan seseorang dari masa anak-anak menuju dewasa. Karena ia adalah fase peralihan, sudah pasti terjadi ketidakstabilan. Setiap goncangan kehidupan akan mempengaruhi perasaan dan bagaimana ia bertindak nantinya. Sifatnya yang tidak tetap, sehingga setiap waktu mengalami perubahan. Perubahan-perubahan itu akan menentukan masa depannya nanti.
Ketika ketidakstabilan fisik dan jiwa bertemu dengan lingkungan yang tidak baik, maka akan mengalami sebuah guncangan jiwa yang bisa berujung pada hal-hal yang destruktif.
Hal yang tidak bisa dipisahkan dengan perkembangan remaja saat ini adalah permasalahan rokok. Setiap tahunnya, pengguna rokok dari usia remaja semakin meningkat. Padahal sudah menjadi ‘rahasia umum’ kalau merokok merupakan perilaku yang bisa mendatangkan kematian. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan beberapa artikel ilmiah menerangkan bahwa dalam setiap rokok terkandung lebih kurang empat ribu racun kimia berbahaya dan 43 di antaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker).
Menurut Ketua I Komisioner Komnas Penanggulangan Tembakau, Widyastuti Soerojo bahwa pada tahun 2013 jumlah perokok usia remaja lebih dari tujuh juta yang setiap tahunnya meningkat 45 ribu perokok baru.
Masa remaja adalah masa seseorang banyak mencoba hal-hal baru. Awalnya hanya sekadar mencoba, bagi yang sudah adiksi akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Lama-kelamaan sudah kecanduan.  Perilaku ini merupakan hal besar yang perlu diperharhatikan, agar setiap orang dewasa terlibat dalam pengawasan itu.
Hanya saja, sadar atau tidak, memang tidak sedikit pihak yang ingin mengambil keuntungan di sini. Menjadikan kaum remaja sebagai objek utama untuk merauk keuntungan tanpa memikirkan dampaknya. Seperti yang kita ketahui, saat ini orang-orang yang masuk dalam deretan orang terkaya merupakan orang yang bergelut di perusahaan rokok.
Kalau kita memang memikirkan keberlanjutan bangsa ini, maka wajib hukumnya memperhatikan kehidupan remaja saat ini. Karena kebiasaan merokok akan merusak otak generasi emas kita.
Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah regulasi yang jelas terkait para perokok. Walaupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa larangan merokok untuk usia remaja. Hanya saja, itu belum menurunkan tingkat pengguna rokok. Bahkan semakin bertambah. Kenapa? Karena memang kita belum satu pikiran bahwa rokok akan membunuh bangsa ini.
Ada juga pendapat keliru yang beredar di kalangan muda. Kalau tidak merokok, katanya tidak gaul. Merokok juga memberi image bahwa merokok dapat menunjukkan kejantanan (kebanggaan diri) dan menunjukkan kedewasaan. Ini adalah kesalahan yang amat besar dalam memaknai kata gaul dan kedewasaan. Buat apa gaul ketika harus merusak diri. Buat apa terkenal kalau ujung-ujungnya berpenyakitan di usia yang masih muda. Kenapa tidak, kata gaul disandingkan dengan kebiasaan-kebiasaan positif. Misalnya tidak gaul kalau tidak berpendidikan, tidak hebat ketika tidak patuh pada orang tua dan seterusnya.
Semakin hari, iklan rokok semakin dipoles semenarik mungkin. Bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Seperti itulah keberadaan iklan rokok di Indonesia. Bahkan yang menguasai iklan-iklan di berbagai media salah satunya adalah produk yang mematikan ini. Remaja yang dipenuhi dengan perasaan ingin tahu, biasanya dengan mudah terpengaruh oleh iklan-iklan tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa sedikit demi sedikit kesehatannya mereka telah belenggu sendiri.
Remaja yang terus berkembang biasanya banyak menghadapi hal baru dan tidak sedikit menemukan kesulitan. Dalam setiap kesulitan itu acapkali melahirkan perasaan frustasi. Ketika perasaan itu datang, biasanya para remaja yang tidak memiliki kualitas moral yang tinggi mencari pelarian. Kebanyakan pelarian mereka mengarah pada kegiatan-kegiatan destruktif. Sehingga masa depannya juga akan terancam.
Bukankah, merokok biasanya menjadi pintu masuknya remaja dalam mencoba narkoba. Kalau kita cermat, kita akan menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi narkoba hampir bisa dipastikan mereka adalah para pecandu rokok. Sehingga kita bisa melihat ujung dari perilaku ini, yaitu kematian dini.
Ada yang lebih berbahaya. Ternyata, perokok itu tidak hanya merusak dirinya sendiri. Tetapi, juga bisa merusak kesehatan orang di sekitarnya. Mereka yang menghirup asap rokok (perokok pasif) memiliki resiko penyakit lebih tinggi dibanding dengan perokok aktif. Inilah hal yang sangat berbahaya. Mereka tidak hanya merusak diri, namun juga merusak orang lain di sekitarnya.
Menurut Tobacco Control Support Center (TCSC), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), pada tahun 2005 jumlah kematian akibat tiga kelompok penyakit utama, yaitu kanker, penyakit jantung dan penyakit pernapasan kronik obstruktif diperkirakan sebesar 400.000 orang yang menyebabkan kerugian total sebesar 167 triliun rupiah atau setara dengan 5 kali lipat pendapatan pemerintah dari cukai tembakau pada tahun yang sama sebesar 37 trilun rupiah.
Ketika seseorang memasuki fase remaja, setidaknya kita harus memberikan pencerahan lebih dini agar mereka bisa melewati fase ini dengan baik. Penanaman nilai-nilai moral adalah agenda orang tua yang harus dituntaskan di lingkungan keluarga. Sisanya, semua elemen ikut aktif dalam menjaga setiap proses itu agar lahir para pelanjut negeri ini yang lebih berkualitas.

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman