Mantra Pujangga | Cerpen - Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Media Online Sulawesi Barat

Breaking

Kamis, 19 April 2018

Mantra Pujangga | Cerpen

www.theguardian.com
Surut kebelakang, ia bukanlah sosoknya sekarang. Sebelum dimabuk asmara, orator jalanan ini sering mengumandangkan hal-hal yang skeptis. Jika ditanya perihal cinta, Ia selalu menjawab datar.
"Aku tak minat urusan-urusan yang dangkal."
Cerita berbalik arah sejak ia mengenal seorang gadis kampus, Maya. Aktivis jelita yang ia temui saat berdemo di depan istana. Dari orasi turun ke hati. Setelah kenal sekian lama, ia merasa yakin bahwa Maya adalah pencarian jiwanya selama ini.
Tutur katanya makin puitis. Olah bahasanya bak pujangga. Intonasinya diatur. Apa-apa ada filosofinya. Bila melihat mawar ia akan berbicara hakikat durinya. Sampai urusan kentut bisa didedah maknanya.
"Sasarannya lantai, yang kena hidung semua orang. Hati-hati berujar. Tapi memeramnya juga bukanlah solusi pintar. Disinilah akal dan hati harus bijak memutuskan." Ujarnya berlagak serius.
Suatu kala ia memberanikan diri mengajak kencan sang pujaan. Kencan sederhana yang selalu berakhir di sebuah taman bunga. Mengitari sekeliling alun-alun kota. Duduk berdua di kursi batu. Berbincang tentang apa saja. Lalu pulang saat senja telah habis disesap romansa. Memuntal  janji kembali untuk pertemuan esok hari. Begitulah seterusnya. Sampai ia terbiasa, dan mencandu. Janji dan pertemuan adalah candu.
Jika rindu tak tertunai ia akan sendirian pergi ke taman. Menikmati suasana. Jiwa seninya bergejolak. Ia bisa tiba-tiba membacakan beberapa bait sajak dan narasi yang menarik perhatian orang-orang. Gesturnya atraktif. Awalnya satu-dua. Semakin lama berubah jadi massa.
"Lebih berbahaya mana, dusta atau kritik?"
"Sebilah belati atau lidah?" Tanya pendengarnya.
"Kritik menuntun cita, dusta menimbun percaya. Belati melukai sesaat, lidah merajah abadi."
"Apa itu cinta?"
"Hantu kenyataan"
"Apa itu filsafat?"
"Pencerahan dari gelap."
"Apa itu gelap?"
"Ketiadaan cahaya. Tapi cahaya tak sepenuhnya kuasa tanpa ada gelap. Ia bagai pisau bermata dua. Bisa berguna atau melukai. Bisa kontemplatif atau luruh tak berbentuk. Karena kedaifan manusia, cahaya mesti abadi dalam nyala."
Bagai sihir, jawaban singkatnya memesona pendengar. Adegan yang sama berulang di hari-hari kemudian. Akhirnya ia memiliki banyak pengikut. Kata-katanya selalu ditunggu. Epigram dan opini-opini penuh makna ia tulis. Bukunya laku di pasaran. Jadilah ia penulis muda debutan yang fenomenal. Diundang di banyak seminar, perhelatan debat, sastra, talkshow, sampai acara kawinan sebagai motivator asmara.
Namun bicara asmara, jangan dikira perjalanan cintanya mulus dan lancar-lancar saja layaknya jalan bebas hambatan.  Pesona Maya tentu mengundang banyak lebah untuk datang bersarang. Ia harus berjuang sekuat tenaga untuk bersaing dengan deretan kompetitor-kompetitor, pesaing-pesaing lokal maupun luar. Luar lingkungan kampus maksudnya.
Semua pesaing akan saling menjatuhkan, itu niscaya. Saling sikut untuk merebut hati Maya. Dari mulai kawan sesama mantan aktivis, anak band, calon artis sinetron, anggota partai, kenalan orangtuanya, PNS, pengusaha muda, pengusaha tua, pengusaha tua yang berniat menambah bini muda siap mengantre.
Yang terakhir tak akan masuk hitungan. Ia tahu benar siapa Maya. Wataknya yang kerap menyuarakan hak dan kesetaraan perempuan tentu anti untuk bersenang-senang di atas penderitaan hati perempuan lain. Maya pun bukan tipe materialistis. Ia adalah perempuan mandiri yang punya segudang mimpi. Pesaing paling tangguh paling ya mantan petahana alias bekas pacarnya yang baru putus dua hari lalu. Tapi layaknya mantan, pasti ada saja celah yang bisa dikapitalisasi untuk dijatuhkan.
Semua daftar itu tak membuatnya patah arang. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Segala yang menikung harus segera ditumpas dalam tempo sesingkat-singkatnya. Maklumlah, sejak tenar ia bak dikejar umur untuk kawin. Usianya dengan Maya memang terpaut lima angkatan. Mamak di dusun begitu khawatir dengan aktivitasnya yang rawan. Padahal sekarang ia tak lagi sibuk protes di jalanan. Tak lagi sibuk kumpulkan banyak orang dengan resiko ditahan.  Apa Mamak tak menonton TV, pikirnya.
"Pilihlah perempuan yang pandai mengurus rumah, Nak. Memanjakan perutmu dengan olahan tangannya sendiri. Menjaga kehormatan suami sebaik-baiknya." Titip Mamak suatu ketika nun jauh di seberang sana. Ia meyakinkan diri jika Maya sesuai dengan kriteria Mamak.
Sebelum janur kuning melengkung semuanya masih memungkinkan. Tak ada rumus pasti buat pemenangan kontestasi. Omong kosong saja kita bicara baik-buruk, benar-salah, hitam-putih, ganteng-jelek dalam percintaan. Kalau tak kalah ya menang. Itu saja. Pencitraan diri sebagai lelaki romantis yang disorot sejumlah media membuatnya merasa di atas angin. Ia merasa aman dengan status hubungannya dengan Maya. Jadi media darling untuk contoh ideal pasangan harmonis. Padahal menikah pun belum. Semakin hari jadwalnya semakin padat. Ia harus berkeliling stasiun TV dalam seminggu. Mukanya nampang di layar hampir setiap hari. Di medsos jangan lagi ditanya. Tagar ini itu selalu muncul di tiga teratas.
Agak berbandingan, Maya harus bolak-balik kampus mengejar tenggat tesis. Waktunya banyak terbuang untuk perpustakaan dan riset. Aktivitas di luar kampus selama ini lumayan berdampak pada nilai akademiknya. Dapat dipastikan kuliahnya tak akan kelar empat tahun. Tanpa bantuannya, Ia yakin Maya dapat memecahkan sendiri tugas-tugasnya.
Ia memang tampak menikmati popularitas. Tapi akhir-akhir ini polahnya terasa ganjil. Pendapatnya sering terdengar aneh. Ia jadi lebih sering berorasi sastra di alun-alun kota ketimbang taman bunga di sekitarnya. Mungkin taman bunga dicap terlalu feminin. Kurang menggelora.
"Menafikan dusta, berarti menafikan kreasi berfikir. Bukankah dusta suami pada masakan isterinya tak dilarang? Dusta bertujuan damai dibolehkan? Lalu bagaimana dengan penyair dan penulis cerita. Bukankah fiksi itu tidak faktual?"
"Jika dusta dilarang, siapa yang boleh?" Ujarnya membuka petang.
"Apa itu cinta?"
"Hanya sebuah kata dan permainan bahasa. Permainan reaksi kimia di kepala."
"Cinta itu fiksi!"
Beberapa pasangan muda yang hadir agak terkejut.
"Mungkin konteksnya untuk para jomblo, Saudara-Saudara!" Kata seorang lelaki yang terlihat bersama pasangannya yang cemberut, berusaha menenangkan.
"Atau untuk mereka yang menikah tapi tak bahagia!" Balas yang lainnya menimpali.
Para pendengarnya bak terbelah dua kubu.
"Mengapa pendapatmua berubah?"
"Tak ada yang tak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Heraclitus."
"Bukankah hakikat cinta itu sifatnya universal?" Tanya penggemarnya makin terprovokasi.
"Dalam cinta selalu memilih. Pilihan itu sendiri majemuk dan khas. Maka ia menjadi partikular."
"Apa anda tak bisa bedakan antara universalitas dan partikular?"
"Menurut anda sebuah karya sastra harus terpisah dari unsur ekstrinsiknya atau tidak?" Ia balik bertanya. Orang-orang terdiam. Mungkin tak mengerti apa maksudnya.
"Bukankah Heidegger pro Nazi? Bukankah hidup dan teks Allan Poe, Virginia Woolf, bahkan Chairil kontradiktif?"
"Relasi teks dan pengarangnya hanya berguna untuk dramatisasi dan analisis ndakik-ndakik. Teorema yang berisi asumsi semata. Bukanlah hakikat sebuah karya itu sendiri!" Orasinya bagai hakim yang mengetuk palu dakwaan.
"Jadi menurut anda nilai-nilai universal tak lagi penting?!" seorang pendengar berdiri di tengah dengan telunjuk membusur. Suasana terasa seperti acara debat di televisi.
"Apakah nilai-nilai universal yang anda klaim itu menghindarkan kita dari sikap partisan?"
"lebih jauh lagi, sejak kapan sebuah konsensus jadi resep manjur menghapus peperangan dan pertikaian?!"
"Anda seperti tak punya pegangan." Orang itu menggeleng pelan.
"Sisifus adalah tokoh fiktif yang terlalu nyata di dunia ini, kawan. Puncak dari kutuk kedaifan." Ia memutuskan menyudahi polemik. Turun dari mimbar dengan senyum kepasrahan.
Opininya menimbulkan bisik-bisik. Kalimatnya dirasa tak lagi bermakna. Sebagian pengagumnya kecewa. Mereka menyadari ada yang tak beres dengan panutannya ini. Ia terdengar begitu sarkastik. Penuh retorika banal. Mereka, para pecinta itu, hanya ingin mendengar kalimat indah yang berisi harapan, bukan sabda sinisme yang pejal.
Tapi sedikit demi sedikit tirai tabir mulai terkuak. Tak akan ada asap jika tak ada api. Dari cericit burung tersiarlah kabar, hubungan cintanya dengan Maya ternyata kandas beberapa waktu lalu. Musabab perginya Maya tak perlu kita hakimi dan bahas disini. Hikmah tak terjabar dari gosip dan apriori.
Yang pasti ia jadi terlihat sering termenung. Banyak mengurung diri di kamar. Entah sedang mengolah ide atau meratapi nasib. Tampaknya ia tak tahu harus mengatakan apa jika nanti pulang ke dusun. Tak tega melihat raut Mamaknya yang sudah berharap dengan sekian rencana-rencana pesta. Orangtua dan keluarga satu-satunya yang masih tersisa. Mamaknya sangat ingin melihat ia melepas lajang mumpung masih ada umur.
Tapi yang lebih ia risaukan adalah kehilangan penggemar. Bagai terjerungup retorika sendiri, goncangan batin memengaruhi pola berpikirnya dalam menulis. Perubahan gaya dengan inovasi adalah dua hal yang berbeda. Inspirasi mentok. Penjualan buku jadi sepi. Para kritikus dan pemerhati tak lagi mengulas serius karyanya. Undangan jadi narasumber pun berkurang. Ia kesal sendiri. Takut bakal berakhir seperti mantan penguasa yang terkena post power syndrome.
Setelah sekian bulan bertapa, akhirnya ia memutuskan turun gunung.
Merasakan terik polusi kota. Kepulan asap knalpot. Debu material pabrik dan insiden jalanan. Menghirup bau keringat rakyat dan pedagang kecil. Kemacetan dan orang-orang yang dikejar sibuk. Jiwa-jiwa yang dimabuk modernitas. Agak ragu langkahnya pelan memasuki pelataran alun-alun. Beberapa orang terlihat tengah bersenda. Sebagian lagi menatapnya dengan heran.
"Hey! Itu Si Burung Gagak! Ia kembali dari pertapaan."
Tak dinyana sebagian penggemarnya masih ada yang setia. Rasio lantas berjalan. Otaknya bekerja dalam hitungan detik. Beberapa orang menyalami, menepuk-nepuk bahunya. Mempersilahkan mengambil tempat di tengah-tengah, titik dimana dulu ia biasa berpidato. Orang-orang kemudian berkumpul membentuk lingkaran. Beberapa pasang mata siap menyimak. Ia bersabda:
"Cinta selalu menghantui. Tapi hantu tidak melukai. Hantu adalah candu, nyala yang abadi. Jadilah hantu bagi jeri!"
"Jadilah hantu bagi nyeri!"
Pekiknya berapi-api di hadapan para pengagum setia, orang-orang patah hati yang kalah dalam percintaan dan kesepian.
Kaarya: D. Hardi  *Kompasiana

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman