Mushlihun dalam Berpolitik | Opini - Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Media Online Sulawesi Barat

Breaking

Selasa, 10 April 2018

Mushlihun dalam Berpolitik | Opini

Picture: focus.fisipol.ugm.ac.id
KuritaNews.com, Penulis: Amirullah Bandu

Keniscayaan dalam berdemokrasi adalah adanya ruang untuk mengeskpresikan kebebasan dalam mengusung negeri ini. Dan negeri yang tercinta ini memilih partai politik sebagai instrumen yang berperan dalam meningkatkan kualitas negara sebagai sumber daya. Karena ia merupakan sumber daya maka sudah barang pasti butuh pengelolaan yang baik dan tepat. Tidak salah, Allah telah mengirim kita ke permukaan bumi ini sebagai desainer sekaligus pelaku aktif dalam mengelola sumber daya tersebut. Atau dalam bahasa Al-Qur’annya adalah seorang khalifah. Sebaik-baik khalifah, ia yang dengan amanah dapat mendesain bumi dan isinya. Atau disempitkan pengertiannya, ia yang mempu mempertemukan kehendak Tuhan dengan kehendak kepemimpinannya.

Berpolitik merupakan sebuah proses panjang yang sangat melelahkan. Karena prosesnya yang lama, maka tidak sedikit orang yang mengalami fatamorgana narasi di dalamnya. Cara berpolitiknya adalah cara yang dilandasi oleh sikap materialisme dan keduniaan, yang dipicu oleh paham rasionalisme dan humanisme. Sehingga keduanya memutus kaitan antara kehidupan politik dan agama. Padahal Allah telah memberikan peta jalan dalam berpolitk agar tidak terjebak dalam lingkaran sekulerisme yang menyesatkan. Cara berpolitik inilah yang disebut sebagai politik yang dzolim.

Cara berpolitik kedua adalah pemeran politik yang sholeh. Sholeh berasal dari kataShaalihun li nafsihi. Maknanya baik untuk dirinya sendiri. Berpolitik yang kurang ingin mengambil resiko terhadap kemungkaran yang ingin ia cegah. Memang diakui, dalam karirnya ia termasuk kelompok yang memiliki ide dan kerja baik. Dengan istilah, amar ma’ruf dan nahi mungkarnya tetap jalan namun hanya untuk diri mereka sendiri. Takut akan melakukan hal-hal besar yang baik namun dapat membahayakan posisinya sebagai politisi. Intinya dia baik hanya untuk dirinya sendiri dan  kelompok atau partainya.

Kembali pada firman Allah dalam surah Hud ayat 117, “Dan Tuhan sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan”.  
            
Kata berbuat kebaikan di atas berasal dari kata Mushlihun. Sehingga dalam catur perpolitikan sekarang ini dibutuhkan orang atau kelompok yang termasuk dalam golongan mushlihun tersebut. Mereka yang menggunakan isntrumen politiknya untuk kemaslahatan umat dan menggunakan kekuatannya untuk menghindarkan keburukan meskipun membahayakan posisinya sebagai politisi.

Banyak fitnah yang menyebar tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap menebar rahmat. Banyak kecaman dari orang-orang yang tidak ingin kebaikan negeri ini, itu tidak membuatnya takut. Ocehan dan ancaman sudah merupakan bahasa sehari-hari yang ia lalui. Menolak ketidakadilan adalah karakter yang sudah membatu dalam dirinya.

Ini semua ia lakukan karena besar cintanya kepada negeri ini. Atas dasar cinta itulah yang menguatkan bahu dan ototnya untuk bekerja di tengah badai perpolitkan yang semakin tidak sehat. Karena ia yakin, apapun yang dilakukannya atas dasar cinta kebajikan maka lahirnya akan sebuah kebaikan.

Di manakah posisi kita sekarang ini? Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban perkataan. Namun ia memutuhkan realitas dalam perbuatan kita. Saya berharap kita berada di golongan Mushlihun dalam berpolitik.
            
Akhirnya, sesuai dengan perkataan dan pemahaman awam bahwa Mushlihun dalam berpolitik itu  merupakan tolak bala bagi bangsa ini. Sebagai satabilisator dan dinamisator di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga tercapailah tujuan kita bersama sesuai dengan kehendak Allah yaitu baldatun thoyyibatun warabbun ghafur, negeri yang baik (nyaman) dan diampuni Allah. Insya Allah.
Wallahu ‘alam.
Amirullah Bandu

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Halaman