Lima Belas Januari | Cerpen Nanad Arul Nadiyah Ulya - Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Kurita News | Kuat, Rinci & Terpercaya

Media Online Sulawesi Barat

Breaking

Rabu, 17 Maret 2021

Lima Belas Januari | Cerpen Nanad Arul Nadiyah Ulya


         Hari Jumat tanggal 15 Januari 2021. Saat mereka semua masih terlelap tidur. Pukul dua dini hari hujan serta suara gemuruh yang kencang masih sangat teringat jelas di benaknya. Dia langsung terbangun dari lelapnya tidur, seperti mimpi yang sedang ia alami. Listrik yang padam semakin membuatnya kesulitan untuk lari mencari pintu keluar. Teriakan mama papa yang khawatir akan dirinya terdengar jelas. Ia rangkul papa dengan erat dan tidak bisa di tahan lagi tangisnya. Oh Tuhan, ada apa dengan Mamuju . . .

***

Alya gadis cantik berusia lima belas tahun yang merupakan anak tunggal dari keluarga kaya raya di Mamuju. Tidak hanya memiliki paras yang cantik, tetapi dia juga memiliki otak yang sangat encer. Semua guru dan siswa-siswi yang lain sudah mengenalnya karena dia selalu berlangganan mendapatkan piala dari bapak kepala sekolah. Walau begitu Alya tidak pernah sombong. Bahkan ia sangat ramah kepada semua orang. Sikapnya yang sopan menambah kualitas di dalam dirinya. Tidak heran jika banyak yang menyukainya.

“Alyaaa, sayangg..... bangun nakk! Cepat keluar dari rumah!”, suara teriakan histeris mama. Sementara itu di luar rumah para tetangga sudah sangat panik. Di tambah lagi air laut yang berada di depan rumah terlihat surut.

Bruakkkk.....!!

 Tiba-tiba bangunan di sebelah rumah Alya ambruk. Alya sangat syok dan langsung berteriak menyebut nama Fahri. Ya. Fahri adalah sahabat baik Alya sejak kecil.

“Hey Alya. Aku baik - baik saja kok!”ucap seorang lelaki sambil menepuk pundak Alya dari belakang.

 “Hufttt!!. Syukurlah kalau kamu sudah keluar rumah tadi. Kukira tadi kamu masih di rumah soalnya dari tadi aku ga ada liat kamu”, balas Alya dengan wajah penuh rasa syukur.

Tak lama kemudian bapak ketua mengintruksikan untuk segera naik ke dataran tinggi. Terlihat orang–orang sibuk membawa barang–barang yang cukup banyak dan kurang penting.

“Bapak ibu sekalian membawa barang yang dibutuhkan dan penting saja ya. Seperti ponsel, surat–surat penting, dan baju satu atau dua saja”.

Seorang bapak yang kami sebut bapak ketua itu menghimbau agar warga membawa barang–barang yang penting saja. Mereka segera mengambil barang berharga miliknya lalu bergegas untuk ke dataran tinggi. Di sepanjang perjalanan Alya menangis. Mamuju yang awalnya ia lihat sangat indah pada hari itu terlihat kacau. Bangunan besar, rumah yang mewah, jalanan yang indah, semuanya rusak, semua hancur. Tiang listrik dan pepohonan yang menjulang tinggi pun tumbang.

“Kita sekarang sedang diuji Allah ya ma?”, tanya Alya kepada mamanya.

“Iya sayang”, sahut mama.

“Bangunan sebesar apapun dengan sekejap bisa hancur atas izin Allah yah maa”, ujar Alya sambil meratapi bangunan-bangunan itu dengan mata yang berkaca - kaca.

“Benar sekali sayang. Allah yang menciptakan seluruh alam ini Allah juga bisa dengan mudah menghancurkannya. Untuk apa kita menyombongkan apa yang kita miliki di dunia ini. Sesungguhnya pun itu semua hanya titipan dari Allah yang sewaktu – waktu dapat diambil lagi olehNya”, jelas mama dengan penuh kasih sayang. Sementara itu papa berusaha untuk fokus karena jalanan yang terbelah di lengkapi lampu jalan yang padam menambah kesulitan papa untuk mengemudi.

              Sesampainya di tempat pengungsian banyak sekali orang-orang dengan reaksi tubuhnya masing-masing. Ada yang menangis, syok berat, kaku, tubuhnya gemetar, bahkan ada pula yang masih terlihat santai. Pakaian yang mereka kenakan pun cukup beragam. Ada yang hanya sempat memakai mukenah, ada yang sudah berpakaian rapi lengkap, ada yang menggunakan selimut untuk dijadikan kerudung sekaligus menutupi auratnya dan ibu-ibu dengan dasternya.

              Waktu terus berlalu. Matahari perlahan muncul menampakkan dirinya. Sinarnya membuat Mamuju yang tadinya gelap gulita menjadi terang.

“Alhamdulillah terang juga. Kalau gini kan bisa agak tenang”, ucap syukur papa.

***

 

              “Akan ada gempa susulan yang lebih kencang dan berpotensi tsunami”.

Info dari salah seorang pengungsi yang di dapatnya dari isu mulut ke mulut membuat para pengungsi semakin cemas. Mereka sangat terlihat panik.

“Ma... apa informasi itu benar? Jika benar  apakah umur kita hanya sampai sini?. Alya takut ma...”, tanya Alya kepada mamanya.

“Anak mama sayang.... hoax atau tidaknya kita tidak tahu. Kamu yang tenang ya Alya Jangan takut. Perbanyak berdoa saja selebihnya kita pasrahkan pada Allah”, jawab mama sambil merangkul erat putrinya. Berharap Alya bisa lebih tenang.

              Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam sudah berlalu. Syukur alhamdulillah isu yang sempat gencar tadi tidak terjadi. Hanya saja ada gempa susulan yang kecil -kecil. Sangat terlihat dari raut wajah para pengungsi sedang menahan lapar. Warung yang biasa berjejer di pinggir jalan semuanya sudah hancur rata. Belum ada bantuan dari daerah manapun. Dapur umum pun belum dibuat. Tetapi rasa lapar itu mungkin sudah teralihkan oleh rasa cemas mereka.

Kringg ... Kringgg ...

“Alya ....”

“Kamu baik-baik saja ?”

“Tadi ada berita katanya Mamuju gempa ya ?”

“Alya, bagaimana kabarmu dan keluargamu ?”

“Tidak ada yang terluka kan ?”

“Tolong  jawab, Alya ...”

“Kami di sini sangat khawatir!”

Ponsel Alya bergetar puluhan kali  menandakan pesan dari whatsapp masuk.

“Oh ya Allah syukurlah sudah ada signal”.

Alya langsung membalas pesan dari sepupunya yang berada di pulau Sumatera. Whatsapp Alya ramai oleh pesan dari teman - temannya yang berada di luar Mamuju. Alya merasa sangat beruntung memiliki teman seperti mereka yang selalu peduli dengan kondisi Alya. Tetapi sayangnya Alya tidak bisa lama -lama mengobrol dengan mereka via ponsel karena listrik belum juga menyala sedangkan baterai ponsel Alya sudah mulai lemah.

Seiring berjalannya waktu. Mamuju sudah perlahan bangkit. Listrik sudah ada dan sinyal lancar serta bantuan-bantuan dari berbagai daerah sudah sampai di Mamuju. Sembako, keperluan sehari-hari, bahan pangan, pakaian, dan masih banyak lagi. Menteri sosial ibu Tri Risma pun ikut datang di Mamuju. Warga di Mamuju sangat berterimakasih atas perhatian dan bantuan dari mereka semua.

“Huftt,,,Awal tahun ini sungguh memberikan banyak sekali pelajaran”, gumam Alya.

Apabila terjadi gempa cari tempat yang aman dan segera jauhi lautan. Hindari daerah yang berpotensi longsor, selalu menjaga kesehatan dan tidak terlalu panik karena dapat menurunkan imun tubuh. Dan yang terpenting adalah senantiasa berdoa kepada Allah meminta pertolongan dan keselamatan.

Alya tiba-tiba berhenti mengunyah cilok dengan bumbu kacang yang tadi dibelinya. Ia seketika terdiam seperti ada sesuatu di benaknya. Ternyata ia sedang memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Sungguh kuasa Allah itu benar-benar ada.***

Karya : Nanad Arul Nadiyah Ulya Siswa SMP Negeri 2 Mamuju

Halaman